PERSIB History

Republik Design - Astrajingga Emoticon
WILUJENG TEPANG TAUN PERSIB BANDUNG NU KA 81 TAHUN!! PERJALANAN PANJANG INI MEMBUAT CATATAN SEJARAH SEMAKIN PANJANG DAN KOMPLEKS, MAKA PERSIBhistory AKAN SEGERA BERUBAH TAMPILAN DAN ADA TAMBAHAN FITUR UNTUK LEBIH MEMAKSIMALKAN PENCATATAN SEJARAH DARI KLUB YANG KITA CINTAI INI...


Nama             : Djadjang Nurdjaman
TTL                 : Majalengka, 30 Oktober 1964
Posisi             : Sayap
Julukan           : -

Sebagai pemain, Djadjang mengantarkan PERSIB menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, 1989-1990 dan 1993-1994.

Dalam perjalanan kariernya, Djadjang sempat memutuskan untuk meninggalkan PERSIB dan beralih menjadi pemain profesional yang tampil di Kompetisi Galatama. Tim yang dibelanya di Galatama adalah Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Yogyakarta (1980-1982), Mercu Buana Medan (1982-1985).

Ketika Mercu Buana bubar pada pertengahan tahun 1985, Djadjang memutuskan pulang kampung dan langsung diterima pelatih Nandar Iskandar sebagai anggota skuad PERSIB yang tengah berjuang di Kompetisi Perserikatan 1986. Harapan Djadjang untuk mengobati lukanya pada tahun 1978 akhirnya kesampaian, ketika PERSIB akhirnya menjadi juara pada musim itu.

Bersama PERSIB tentu saja ia merasakan momen yang paling berkesan dan takkan pernah dilupakannya ketika menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986. Dalam pertandingan final menghadapi Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Djadjang merupakan pahlawan kemenangan lewat gol tunggal yang dicetaknya pada menit 77. Usai pertandingan, Djadjang dielu-elukan puluhan ribu bobotoh. "Itulah momen yang takkan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya," kata Djadjang.


Sebagai pelatih, Djadjang merasakan gelar juara ketika menjadi asisten pelatih Indra M. Thohir di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995 dan masih dipercaya hingga tahun 1996. Setelah itu ia lebih memantapkan karier kepelatihan dengan menukangi PERSIB Junior (U-23). Di tahun 2006 lagi-lagi ia mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Setelah itu ia mengembangkan karier kepelatihan di luar PERSIB, hingga pada tahun 2012, manajemen PERSIB mempercayakan dirinya untuk menukangi tim sebagai Pelatih Kepala dalam mengarungi Indonesia Super League tahun 2013.

Kembalinya ke PERSIB seolah mengulang romantisme juara dengan rekan-rekannya di Liga Indonesia I. Namun kali ini ia menjadi pelatih kepala, "abah" Indra Thohir sebagai Direktur Teknik, dan juga ia dibantu oleh trio mantan pemain yang mengantarkan PERSIB juara LI I, yaitu Anwar Sanusi, Asep Soemantri, dan Sutiono Lamso sebagai asisten pelatih. Hasilnya tidak mengecewakan, di ajang turnamen pra musim Celebes Cup yang digelar di kota Bandung, Djadjang mempersembahkan tropi juara setelah di final mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Musim selanjutnya (2014) Djadjang masih didaulat sebagai pelatih kepala, kali ini ia mengajak Herrie Setiawan, Asep Soemantri dan Anwar Sanusi sebagai asisten pelatih. 
Read More …


Nama             : R.E Suhendar
TTL                 : Bandung, 21 Maret 1938 
Posisi             : Sayap Kiri
Julukan           : -

Kelihaian menyisir di sayap kiri lapangan, membuat R.E Suhendar menjadi salah satu nama yang paling disegani saat PERSIB berada pada zaman keemasan Kompetisi Perserikatan tahun 60-an. Hampir tidak ada yang dapat menghentikannya jika dia sudah menggiring bola untuk menusuk ke jantung pertahanan lawan. Hal itu membuat dia oleh rekan setimnya dijuluki "Si Banteng".

Julukan "Banteng" ini karena dia memiliki kecepatan dan badan yang besar, sehingga tahan bantingan. Posisi spesialisnya di sayap kiri makin sulit tergantikan karena dia juga memiliki spesialis tendangan kaki kiri sangat keras. Saat itu, PERSIB dihuni materi pemain berkualitas di semua lini sehingga berhasil menjadi juara pada Kompetisi 1961, setelah mengalahkan Persija Jakarta 3-1. Penampilannya yang gemilang itu membuat ia terpilih masuk timnas Indonesia di bawah pelatih asal Yugoslavia Tony Poganic.

Selain berkiprah ditingkat nasional bersama PERSIB, ia pun turut serta bersama PERSIB untuk mewakili PSSI di ajang Kejuaraan “Piala Aga Khan” di Pakistan pada 1962. Prestasi yang ditunjukkan ternyata bukan hanya sebagai pemain. Suhendar telah menyumbangkan jasanya sebagai pelatih bersama Nandar Iskandar pada saat juara kompetisi 1986, dan 1990 dengan Ade Dana.
Read More …

Nama           : Dedi Sutendi
TTL               :
Posisi           :  Striker
Julukan         :

Merupakan pemain andalan PERSIB di era 70’an, ia sempat hijrah ke PSMS Medan dan Pardedetex Medan (Klub Galatama).  Dedi Sutendi akhirnya  kembali ke PERSIB pada Juni 1976.

Di tahun 2006 kembali masuk PERSIB, kali ini berperan sebagai asisten pelatih.
Read More …




Keputusan menunjuk Marek Andrejz Sledzianowski sebagai pelatih pada LI IX/2003 terinspirasi oleh sukses Marek Janota dalam melahirkan bintang muda pada awal 1980'an. Marek diharapkan melanjutkan pendahulunya.

Namun langkah yang dilakukan justru sebaliknya. Marek versi ini tidak mengakomodasi pemain muda potensial seperti Eka Ramdani, Erik Setiawan, Boy Jati Asmara dan Hari Saputra.

Selain itu sejumlah pemain senior seperti Yaris Riyadi, Cecep Supriatna dan Suwitha Patha juga turut hengkang ke klub lain. Buntutnya, Marek yang sama sekali masih buta sepakbola Indonesia harus mengarungi kompetisi dengan sederet pemain yang tidak berpengalaman karena kebanyakan baru pertama kali tampil di LI.

Hasilnya PERSIB terseok-seok. Empat pemain asing asal Polandia yang dibawanya tak bisa berbuat banyak. Kekalahan terus dialami. Marek digoyang dan akhirnya harus lengser saat baru melewati 6 pertandingan tanpa kemenangan.
Read More …

Nama      : Aang Witarsa
TTL         : Bandung 3 Desember 1930
Posisi     : Striker, Pelatih Kepala (1962)
Julukan   : -

Inilah pemain PERSIB yang paling bertalenta di zamannya. Ia merupakan ikon sepakbola Bandung di era 50-60’an. Beliau mendapat julukan The Flying Horse atau si Kuda Terbang. Julukan ini diberikan karena ia memiliki kemampuan berlari yang sangat tinggi, juga diimbangi dengan kemampuan mengolah bola sambil berlari, sehingga sulit bagi pemain lawan untuk merebut bola dari kakinya. Julukan ini sebenarnya tidak datang dari dalam negeri, melainkan pers Singapura yang pertama kali memberikan nama tersebut pada beliau.

Tak heran bila ia menjadi kebanggaan masyarakat Bandung di saat itu, sampai-sampai gambarnya tertera di pensil, penghapus, penggaris para bobotoh saat itu.

Dari permainannya hebatnya bersama PERSIB, ia kemudian ditarik oleh tim Nasional sejak usia 18 tahun, dan menjadi pemain PERSIB pertama (bersama Anas) yang memperkuat PSSI generasi pertama untuk kejuaraan Asian Games 1950. Ia juga turut bahu membahu untuk tim Nasional Indonesia di ajang Olimpiade di Melbourne pada tahun 1956.

Berbekal dari ilmu kepelatihan yang diikutinya di Leipzig, Jerman Timur, ia didaulat sebagai Pelatih PERSIB pada tahun 1962.
Read More …


Nama      : Daniel Darko Janackovic
TTL         : -
Posisi     : Pelatih Kepala
Julukan   : -

Daniel  Darko Janackovic adalah mantan pemain sepak bola profesional di Perancis, Serbia, Bulgaria, dan Portugal namun kariernya terhambat karena sebuah kecelakaan mobil yang dialaminya.

Berhenti bermain bola, ia meneruskan kecintaan terhadap sepakbola dengan menangani kesebelasan di Yugoslavia dan Serbia. Sebelum berlabuh di PERSIB, ia tercatat sebagai pelatih di salah satu klub di Liga Aljazair.

Awal kehadirannya di PERSIB sempat menimbulkan pro dan kontra, tapi akhirnya dia tercatat juga sebagai pelatih PERSIB di ISL 2010/2011, bahkan nilai kontraknya saat itu konon yang tertinggi di Indonesia. Namun kariernya tidaklah mulus, bahkan sebelum ia mencicipi persaingan kompetisi di Indonesia, ia sudah langsung angkat koper karena terlibat konflik dengan beberapa pemain serta pengurus.

Karena karakternya yang keras dan cenderung otoriter, serta memilih pemain yang kurang tepat dengan proses seleksi yang lambat, ia lalu dituding sebagai biang kegagalan PERSIB di ISL 2010/2011. Tapi kami admin PERSIBhistory, tetap menghargai beliau sebagai salah seorang tokoh yang berjasa dalam perjalanan PERSIB. Apapun hasilnya, rasanya kurang bijak jika kita menyalahkan hanya pada satu orang.
Read More …


Nama     : Emen Suwarman
TTL        : Majalengka, 18 Mei 1939
Posisi    : Gelandang – Asisten Pelatih
Julukan  : Guru

Bermain sepak bola adalah hobinya sejak kecil. Dengan giat berlatih di sekitar rumahnya di daerah Majalengka membuat skillnya semakin terasah dan dikenal di wilayah Majalengka. Emen kemudian memperkuat Persima Majalengka selama 3 tahun. Kemudian, dia dipinjam untuk memperkuat tim Korem Cirebon pada kejuaraan sepak bola antar-Korem se-Jawa Barat di Stadion Siliwangi Bandung tahun1958.

Penampilan Emen pada kejuaraan itu membuat Pangdam VI/Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie, terpikat. Ia memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Emen ke Bandung memperkuat PSAD.. Emen resmi pindah ke PSAD pada tahun 1960, dan di tahun itu juga ia mulai memperkuat PERSIB dan tim Jabar pada PON V/1960 di Bandung.

Saat PERSIB meraih juara Kompetisi Perserikatan 1960/1961, Emen belum masuk tim inti  Saat itu, PERSIB memiliki banyak pemain, sehingga dibentuk tiga tim yaitu PERSIB Garuda, Harimau, dan Banteng. Eman mendapat jatah di PERSIB Banteng.

Saat di tahun 1961, PSSI menggelar invitasi sepak bola di Senayan, yang diikuti lima klub, yakni PERSIB, Persija, Persebaya, PSMS, dan PSM, Emen sudah memperkuat PERSIB, saat itu PERSIB tampil sebagai juara tanpa terkalahkan. Penampilan Emen akhirnya memikat Tony Pogacnic, Pelatih PSSI. Emen dipanggil untuk memperkuat Indonesia pada Asian Games 1962. Mulai saat itu Emen berkali-kali membela tim nasional di berbagai ajang internasional.

Emen memiliki fisik yang kuat, ibaratnya singa liar ketika di dalam lapangan. dia dikenal berani bermain keras dan tanpa kompromi. Hal itu ditunjang pula dengan kemampuan teknik individunya yang cukup tinggi, umpannya akurat serta punya tendangan yang sangat keras. Bisa dikatakan, dia adalah pemain yang lengkap.

Maka pantaslah jika dia kita nobatkan sebagai salah seorang legenda sepakbola Indonesia. Pemain yang berposisi sebagai gelandang ini memang tidak setenar Wowo Sunaryo, Ramang, Sucipto, dll, tapi dia menjadi bagian terpenting di timnas Indonesia era 60’an. Ia membawa timnas meraih juara pada beberapa event internasional.

Tahun 1964, Emen pensiun dari status sebagai pemain nasional, pada usia 25 tahun. Namun, dia masih tetap memperkuat PERSIB sampai tahun 1973.

Setelah pensiun sebagai pemain PERSIB, Emen Suwarman mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih PERSIB bersama Djajang Nurdjaman pada Kompetisi Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia I 1994/1995. Pelatih kepala PERSIB saat itu, Indra Thohir. Pada dua event itu, PERSIB meraih juara. Posisi Emen terus bertahan sampai PERSIB tampil pada Liga Champions Asia. 

Pengabdian Emen terhadap PERSIB tidak ada yang menyaingi dan bisa bilang nyaris tanpa batas. Pada Kompetisi Liga Indonesia VII 2001, Emen masuk kembali dalam jajaran ofisial PERSIB. Jabatannya menjadi masseur. Ia bertahan hingga kompetisi 2003. Pada kompetisi 2005, dia masuk kembali dengan posisi tetap sebagai masseur, dan dipertahankan hingga kompetisi 2007. Sebenarnya, nilai penghargaan prestasi dia dulu dengan jabatan saat ini sebagai masseur, tak sebanding. Namun, hal ini tidak membuat Emen merasa rendah diri.

Seorang masseur merupakan bagian terpenting dalam klub. Saya sudah merasakan ketika masih aktif menjadi pemain karena sering dipijat masseur tim. Jika pemain ada yang cedera otot atau pegal-pegal, menjadi tugas masseur untuk menyembuhkannya. Saya menikmati pekerjaan ini,” ujarnya.
Read More …


Nama      : Omo Suratmo
TTL         : -
Posisi     : Gelandang, Pelatih Kepala (sampai 1976)
Julukan   : -

Seorang pemain yang menghuni skuad PERSIB di era 50-60’an. Tim PERSIB saat itu bisa dikatakan sebagai generasi emas yang pertama, dimana PERSIB mengalami puncak kejayaan dengan memenangkan berbagai gelar juara dan disegani di kancah persepakbolaan Indonesia.

Omo Suratmo adalah gelandang sekaligus kreator permainan PERSIB di saat itu. Menurut sumber bobotoh yang pernah menyaksikan permainannya, Omo dikenal sebagai pemain yang memiliki skill dan juga visi bermain yang sangat istimewa.

Pengabdiannya terhadap PERSIB tidak hanya sebagai pemain, setelah pensiun sebagai pemain ia kemudian dipercaya sebagai pelatih. Mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala PERSIB di tahun 1976.
Read More …


Nama       : Max Timisela
TTL          : Cimahi, 7 Mei 1944
Posisi      : Gelandang - Asisten Pelatih
Julukan    : -

Pemain keturunan Maluku, tetapi lahir di Cimahi ini menempati posisi sebagai gelandang, ia mulai bergabung bersama PERSIB sejak tahun 1962, dan mulai menjadi tulang punggung kira-kira periode 60’an akhir atau awal 70’an. Max Timisela adalah pemain dengan talenta dan bakat alam yang luar biasa, ia dikenal memiliki kemampuan brilian mengolah bola, lari yang cepat, tendangan akurat, serta visi bermainnya yang istimewa, Ia juga piawai menjebol gawang lawan dengan aksi "Balik Bandung" atau kontra salto.

Meskipun secara prestasi di Perserikatan saat itu PERSIB paceklik gelar, namun di ajang turnamen PERSIB justru beberapa kali meraih gelar Juara. Prestasi bersama PERSIB yang pernah diraihnya tidak main-main, antara lain membawa Piala Jusuf di Makassar, Piala Surya di Surabaya, dll. Dari situlah nama Max terkenal ke seluruh tanah air hingga menjadi langganan tim nasional. 

Ketika bergabung dengan timnas PSSI, membawanya pergi keberbagai negara di belahan dunia. Ketika Tur Eropa melawan klub dari Jerman, Werder Bremen pada tahun 1965, timnas kalah 5-6. Max berhasil mencuri perhatian dengan mencetak dua gol. Saat itu juga, pelatih Werder Bremen, Heer Brocker sempat kepincut untuk merekrutnya. Mereka tercengang akan kemampuan pemain ini yang sekelas dengan pemain Eropa, akhirnya Wali Kota Bremen melayangkan pinangan langsung pada Wali Kota Bandung saat itu yaitu Otje Djunjunan. Max pun berkostum Werder Bremen sebelum akhirnya diminta untuk pulang kembali ke Indonesia atas perintah dari Menteri Olah Raga saat itu, Muladi.

Max Timisela gantung sepatu pada usia hampir 35 tahun, tepatnya pada tahun 1978 saat PERSIB terdegradasi ke Divisi I. Seandainya saja saat itu ia masih berusia muda, tentu ia akan terus berjuang bersama PERSIB meskipun bertanding di divisi I. Selain itu PERSIB saat itu sudah seharusnya melakukan regenerasi dengan member kesempatan kepada yang lebih muda.

Setelah pensiun, Max Timisela pernah menjadi asisten pelatih dalam rentang waktu tahun 1986–1990. Prestasi yang dia dapat ketika menjadi asisten pelatih ialah saat dia menjadi asisten pelatih dari Nandar Iskandar, ketika itu PERSIB berhasil meraih juara di Kompetisi Perserikatan 1986.
Read More …


Nama        : Ade Dana
TTL           : -
Posisi       : Striker (Era 50-60'an), Pelatih Kepala (1984/1985, 1989/1990)
Julukan     : -

Ade Dana adalah salah seorang pemain besar yang pernah dilahirkan PERSIB Bandung. Ia merupakan striker PERSIB di dekade 50-an dan 60-an.

Ia adalah pemain yang membawa PERSIB bercokol sebagai salah satu tim elite nasional. Pada tahun 1957, Ade dana membawa PERSIB menduduki peringkat ketiga dan dua tahun kemudian membawa PERSIB naik ke posisi kedua. Baru pada 1961, ia membawa PERSIB sebagai juara Kejuaraan Nasional (Perserikatan, atas keberhasilan tersebut, PERSIB kemudian ditunjuk mewakili PSSI dalam kejuaraan sepak bola ”Piala Aga Khan’ di pakistan 1962.

Ade Dana juga pantas digelari sebagai Legenda Sepakbola Indonesia. Prestasi tertingginya bersama dengan rekan-rekannya seperti Aang Witarsa dan Rukma adalah membawa PSSI menahan imbang tim kuat, Uni Sovyet tanpa gol pada pertandingan Olimpiade di Melbourne tahun 1956. Berkat kecemerlangan itu pula ia juga pernah melanglang buana di Sovyet selama tiga bulan pada tahun 60-an.

Sampai saat ini prestasi tersebut dianggap sebagai prestasi paling fenomenal yang pernah tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Berkat itu pula, sampai akhir hayatnya, ia tetap menerima uang pensiun dari PSSI sebagai penghargaan atas jasa-jasanya tersebut.

Sebagai pelatih,  pada tahun 1984/1985, Ade Dana membawa PERSIB tampil sebagai runner up Kompetisi Perserikatan. Kemudian bersama asisten Indra tohir dan Dede Rusli, ia kemudian membawa PERSIB tampil menjuarai kompetisi perserikatan 1989-1990. Sukses itu mengantarkan Ade Dana menjadi orang pertama di kubu PERSIB yang berhasil mempersembahkan gelar juara ketika menjadi pemain dan pelatih. Selain itu, ia juga merupakan pelatih pertama di Jawa Barat pada era ’80-an yang memiliki predikat S-1.
Read More …


Nama       : Adeng Hudaya
Lahir        : Garut 30 juni 1957
Posisi      : Libero
Julukan    : -

Pemain kelahiran Cikajang, Garut ini hijrah ke kota Bandung pada tahun 1977 untuk kuliah di FPOK UPI (IKIP). Guna menyalurkan hobinya bermain sepakbola ia masuk klub POP dan selanjut nya POR UNI. Rupanya bakatnya yang hebat yang terbilang istimewa tak lepas dari pantauan para pencari bakat PERSIB. Tak heran dua tahun kemudian Adeng sudah masuk skuad inti. Awalnya Adeng Hudaya menolak bergabung karena ditukangi oleh Marok Janota yang dinilainya kurang cocok dengan gaya bermainnya, tapi akhirnya dia masuk juga ke skuad kebanggaan kota Bandung itu.

Adeng mulai bergabung dengan Tim PERSIB sejak tahun 1979, Adeng pun ikut berjuang dari kampung ke kampung ketika PERSIB terlempar dari divisi utama pada musim kompetisi 1978-1980. Pada awal karir bersama PERSIB Bandung Justru Adeng bukan pemain belakang, ia malah di-plot sebagai striker, Belakangan posisinya berganti-ganti, selain jadi striker ia pun sempat menjadi gelandang, bek sayap hingga Kiper. Sebagi kiper ia pernah turun sebagai pemain cadangan dalam satu laga kompetisi perserikatan 1984. Ceritanya saat itu Wawan dan Boyke yang biasa jadi pelapis Kiper utama Sobur tak bisa turun karena cedera, Adeng terpaksa di siapkan sebagai Kiper dadakan. Adeng baru dapat di tempatkan sebagai libero pada tahun 1985, posisi ini tidak tergantikan sampai mengundurkan diri.

Sebagai pemain muda, ia dipercaya mengenakan ban kapten sejak tahun 1980 menggantikan seniornya Giantoro yang pensiun, sejak saat itu jabatan Kapten PERSIB tak pernah beralih ke orang lain. Tercatat 12 tahun sebagai kapten PERSIB Bandung. Adeng menjadi kapten terlama dalam sejarah PERSIB.Ban kapten PERSIB baru di lepas ketika resmi menyatakan mundur pada tahun 1992. Kiprah Adeng sebagai Kapten sekaligus pemain panutan dalam tim PERSIB Bandung.

Ketika menjadi bagian dari tim nasional Indonesia A yang berlatih di Brasil, ia tidak sempat memperkuat PERSIB di Piala Hasanal Bolkiah (Piala Pesta Sukan II) 1986 di Brunei Darussalam. Tidak meraih gelar bersama PERSIB ia balas dengan membawa Tim Nasional menjadi Juara Piala kemerdekaan.

Bersama PERSIB sudah dua kali merasakan manisnya menjadi juara kompetisi kompetisi perserikatan yaitu pada tahun tahun 1986 dan 1989/1990.

Penampilan Adeng di lapangan hijau terkenal taktis dan elegan, sportif saat berlaga di lapangan hijau jiwa kepemimpinan nya pun cukup kental, tak heran para pelatih PERSIB tak ragu memilih nya sebagai kapten. Sebagai pemain belakang ia tergolong bersih jarang bermain keras. Buktinya selama 13 tahun berkarir dalam skuad PERSIB Adeng hudaya hanya sekali mendapatkan kartu kuning. Hukuman yang ia terima pun bukan karena mengganjal pemain lawan dengan keras melainkan sengaja memegang bola. Saat itu “saya berhadapan dengan striker Persija Kamarudin betay, kalau bola di biarkan saya pasti ketinggalan dan dia tinggal berhadapan dengan kiper ..kan bahaya. Karena itu tanpa pikir panjang bola tersebeut saya tangkap tujuan nya saya saat itu yang penting gawang PERSIB aman.. “ ungkapnya. Lucunya setelah di hadiahi kartu kuning Adeng malah di beri selamat oleh rekan rekan nya dan para pengurus PERSIB, maklum !! berkat tindakan nekadnya gawang PERSIB terhindar dari Gol. Itulah Kartu Kuning Pertama dan sekaligus kartu kuning terkhir selama berkarir bersama tim PERSIB Bandung.

Di luar karier sebagai pemain, ia sempat ditunjuk sebagai Asisten Manajer Bidang Teknik pada musim 2006/2007. Dan saat Arcan Iurie mundur sebagai Pelatih, Adeng Hudaya bersama Robby Darwis, Djadjang Nurjaman, Dino Sefrianto, dan Anwar Sanusi didaulat sebagai Pelatih Kepala.
Read More …

Nama              : Deny Syamsudin
TTL                 : -
Posisi             : Asisten Pelatih - Pelatih Kepala
Julukan           : -

Ketika dipercaya menukangi PERSIB di LI VIII tahun 2002, dia masuk dalam kategori Pelatih muda, berbekal pengalamannya sebagai asisten pelatih dari Indra Thohir serta ilmu kepelatihan yang didapatkan dari kursus kepelatihan, Deny memiliki prospek yang cerah sebagai pelatih. Sayangnya keberuntungan belum berpihak padanya, prestasi PERSIB dibawah kepemimpinannya cenderung labil, jago kandang tapi selalu memperoleh hasil mengecewakan di luar kandang.
Read More …



Nama              : Suryamin
TTL                 : Bandung, 5 Juni 1961
Posisi             : Bek
Julukan           : -

Sebagai pemain ia berposisi sebagai pemain belakang. Salah satu pemain yang termasuk generasi emas PERSIB 1986. Ciri khas permainannya lugas dan berani bermain keras.

Sebagai pelatih, dia mulai menjadi asisten pelatih di tahun 1995 sampai 1997, kemudian setahun kemudian yaitu 1998/1999 dipercaya sebagai pelatih kepala. Namun saat menjabat sebagai pelatih kepala, rongrongan dan intervensi baik dari dalam maupun dari luar tim terus menghinggapi. Akhirnya Suryamin dengan legawa mengundurkan diri sebagai pelatih pada LI VI saat kompetisi masih berjalan. Ia tercatat sebagai pelatih pertama PERSIB yang mengundurkan diri di tengah jalan.
Read More …


Nama              : Risnandar
TTL                 : Bandung, 31 Januari 1948
Posisi             : Striker - Pelatih Kepala
Julukan           : -

Lahir dari keluarga sepakbola, ayahnya R. Soendoro pernah menjabat sebagai ketua umum PERSIB di tahun 1950. Saudara-saudara kandungnya seperti Soenarto, Soenaryono, dan Giantoro adalah pemain-pemain bintang PERSIB pada masanya. Tak heran apabila dia begitu fasih ketika berbicara mengenai sejarah PERSIB. Ia pernah juga menerbitkan buku yang berjudul Lintasan Sejarah PERSIB sebagai wujud kecintaannya terhadap klub kebanggaan kita ini.

Merintis karir di UNI pada tahun 1966 dan di tahun 1967 mulai bergabung dengan PERSIB memperkuat barisan depan sampai dengan tahun 1978. Meskipun tidak pernah membawa PERSIB sebagai juara Perserikatan, tapi Ia pernah menyabet gelar Pemain Terbaik di Kompetisi Perserikatan tahun 1973. Karena penampilannya yang cemerlang, ia sempat beberapa kali memperkuat tim Nasional.

Sebagai pelatih kepala, prestasi terbaiknya yaitu ketika berhasil membawa PERSIB masuk kembali ke Divisi Utama tahun 1983 dan membawa PERSIB ke putaran 12 besar LI II tahun 95/96.  Pada tahun 2006 kembali dipercaya mengangkat pamor PERSIB, tapi kursi kepelatihannya di berhenti di tengah jalan, ia mengundurkan diri akibat desakan mundur dari puluhan ribu bobotoh.

Sebenarnya sebagai seorang pelatih ia pintar melihat potensi-potensi muda. Dari tangannya lahir nama-nama besar seperti Yaris Riyadi, Imam Riyadi, dan Cecep Supriatna yang kemudian menjadi pemain yang disegani di tingkat Nasional.

Read More …

Republik Design