PERSIB History

Republik Design - Astrajingga Emoticon
WILUJENG TEPANG TAUN PERSIB BANDUNG NU KA 81 TAHUN!! PERJALANAN PANJANG INI MEMBUAT CATATAN SEJARAH SEMAKIN PANJANG DAN KOMPLEKS, MAKA PERSIBhistory AKAN SEGERA BERUBAH TAMPILAN DAN ADA TAMBAHAN FITUR UNTUK LEBIH MEMAKSIMALKAN PENCATATAN SEJARAH DARI KLUB YANG KITA CINTAI INI...



Miljan Radović (lahir di NikÅ¡ić, Montenegro, 18 Oktober 1975)  berposisi sebagai gelandang serang. Salah satu gelandang asing terbaik yang pernah dimiliki PERSIB. Bergabung bersama PERSIB pada paruh musim 2010/2011 dan di musim berikutnya tetap dipercaya sebagai pengatur serangan Maung Bandung. Memiliki skill diatas rata-rata dan kerap menciptakan gol yang spektakuler dari tendangan bebas, karena keahliannya itu ia dijuluki The Professor.

Pada musim 2013 dia tidak masuk dalam skuad pelatih Djadjang Nurjaman. Namun kecintaanya terhadap PERSIB tidak pernah luntur. Salah satu bentuk loyalitasnya adalah dengan menerbitkan buku tentang perjalanan karier sepak bolanya yang pastinya memuat pengalamannya bersama PERSIB  dan juga bobotoh yang tak pernah terlupakan.

Dari loyalitasnya itu maka dia pantas kita apresiasi sebagai satu dari sedikit pemain asing PERSIB yang bermain "dengan hati".
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

PERSIB HISTORY, sejarah terlengkap sang juara dari awal berdiri, era perserikatan hingga sekarang, juga dilengkapi dengan download Wallpaper dan Video Persib

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Read More …


Nama             : Daman Suryatman
TTL                 : Bandung, 18 September 1943        
Posisi             : Belakang
Julukan           : -

Daman Suryatman begitulah nama lengkap Legenda PERSIB yang satu ini. Palang pintu handal PERSIB ini memulai debut sepakbola di Klub Masa (Masyarakat Andir) di sekitar tahun ’65. dan tidak lama kemudian pindah ke klub angkasa Bandung, dari klub angkasa inilah Daman direkrut oleh Tim PERSIB.
Pemain yang seangkatan dengan Guru Emen ini pun pernah mendapatkan kesempatan main di Tim Nasional Indonesia (bersama-sama Ronny Patinasari & Abdul Kadir) pada Merdeka Games tahun 1967 dan salah satu turnamen di Taiwan pada tahun yang sama.

Daman pensiun dari PERSIB pada tahun 1970, di masa pensiunnya tersebut Daman merintis karier sebagai pelatih di klub anggota PERSIB, dan disana ia mengorbitkan beberapa pemain hasil didikannnya sebut saja Dede Rosadi dan Gatot Prasetyo.
Read More …


Nama             : Djadjang Nurdjaman
TTL                 : Majalengka, 30 Oktober 1964
Posisi             : Sayap
Julukan           : -

Sebagai pemain, Djadjang mengantarkan PERSIB menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, 1989-1990 dan 1993-1994.

Dalam perjalanan kariernya, Djadjang sempat memutuskan untuk meninggalkan PERSIB dan beralih menjadi pemain profesional yang tampil di Kompetisi Galatama. Tim yang dibelanya di Galatama adalah Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Yogyakarta (1980-1982), Mercu Buana Medan (1982-1985).

Ketika Mercu Buana bubar pada pertengahan tahun 1985, Djadjang memutuskan pulang kampung dan langsung diterima pelatih Nandar Iskandar sebagai anggota skuad PERSIB yang tengah berjuang di Kompetisi Perserikatan 1986. Harapan Djadjang untuk mengobati lukanya pada tahun 1978 akhirnya kesampaian, ketika PERSIB akhirnya menjadi juara pada musim itu.

Bersama PERSIB tentu saja ia merasakan momen yang paling berkesan dan takkan pernah dilupakannya ketika menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986. Dalam pertandingan final menghadapi Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Djadjang merupakan pahlawan kemenangan lewat gol tunggal yang dicetaknya pada menit 77. Usai pertandingan, Djadjang dielu-elukan puluhan ribu bobotoh. "Itulah momen yang takkan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya," kata Djadjang.


Sebagai pelatih, Djadjang merasakan gelar juara ketika menjadi asisten pelatih Indra M. Thohir di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995 dan masih dipercaya hingga tahun 1996. Setelah itu ia lebih memantapkan karier kepelatihan dengan menukangi PERSIB Junior (U-23). Di tahun 2006 lagi-lagi ia mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Setelah itu ia mengembangkan karier kepelatihan di luar PERSIB, hingga pada tahun 2012, manajemen PERSIB mempercayakan dirinya untuk menukangi tim sebagai Pelatih Kepala dalam mengarungi Indonesia Super League tahun 2013.

Kembalinya ke PERSIB seolah mengulang romantisme juara dengan rekan-rekannya di Liga Indonesia I. Namun kali ini ia menjadi pelatih kepala, "abah" Indra Thohir sebagai Direktur Teknik, dan juga ia dibantu oleh trio mantan pemain yang mengantarkan PERSIB juara LI I, yaitu Anwar Sanusi, Asep Soemantri, dan Sutiono Lamso sebagai asisten pelatih. Hasilnya tidak mengecewakan, di ajang turnamen pra musim Celebes Cup yang digelar di kota Bandung, Djadjang mempersembahkan tropi juara setelah di final mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Musim selanjutnya (2014) Djadjang masih didaulat sebagai pelatih kepala, kali ini ia mengajak Herrie Setiawan, Asep Soemantri dan Anwar Sanusi sebagai asisten pelatih. 
Read More …


Nama             : R.E Suhendar
TTL                 : Bandung, 21 Maret 1938 
Posisi             : Sayap Kiri
Julukan           : -

Kelihaian menyisir di sayap kiri lapangan, membuat R.E Suhendar menjadi salah satu nama yang paling disegani saat PERSIB berada pada zaman keemasan Kompetisi Perserikatan tahun 60-an. Hampir tidak ada yang dapat menghentikannya jika dia sudah menggiring bola untuk menusuk ke jantung pertahanan lawan. Hal itu membuat dia oleh rekan setimnya dijuluki "Si Banteng".

Julukan "Banteng" ini karena dia memiliki kecepatan dan badan yang besar, sehingga tahan bantingan. Posisi spesialisnya di sayap kiri makin sulit tergantikan karena dia juga memiliki spesialis tendangan kaki kiri sangat keras. Saat itu, PERSIB dihuni materi pemain berkualitas di semua lini sehingga berhasil menjadi juara pada Kompetisi 1961, setelah mengalahkan Persija Jakarta 3-1. Penampilannya yang gemilang itu membuat ia terpilih masuk timnas Indonesia di bawah pelatih asal Yugoslavia Tony Poganic.

Selain berkiprah ditingkat nasional bersama PERSIB, ia pun turut serta bersama PERSIB untuk mewakili PSSI di ajang Kejuaraan “Piala Aga Khan” di Pakistan pada 1962. Prestasi yang ditunjukkan ternyata bukan hanya sebagai pemain. Suhendar telah menyumbangkan jasanya sebagai pelatih bersama Nandar Iskandar pada saat juara kompetisi 1986, dan 1990 dengan Ade Dana.
Read More …


Nama             : Rukman
TTL                 : Garut, 3 Februari 1937
Posisi             : Kanan Luar
Julukan           : Si Motor

Mengawali karier sepakbola sebagai pemain klub Pengairan Garut. Tiga tahun kemudian, masuk klub Persigar. Ia terpilih memperkuat PSSI Jabar saat melawan Taiwan di Stadion Siliwangi pada 1956. Penampilannya bersama PSSI Jabar dinilai banyak kalangan sangat berpotensi, hal itu membuat klub-klub di Bandung berniat merekrutnya. R. Ading Afandi pimpinan klub Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) kemudian memboyong Rukman pada 1957. Pada tahun yang sama dia masuk tim Jabar pada PON 1957 dan PERSIB junior. Baru pada 1958, dia masuk tim PERSIB senior, seangkatan dengan Parhim, Kiat Sek, Omo, Ade Dana, Rukma, Sulaeman, Nandang, Iwan S., Ahyar, Kaelani, Wowo dll. Rukman berposisi di kanan luar yang sangat ditakuti oleh lawan, karena larinya yang cepat, dia dijuluki "Si Motor". Ia ikut andil bersama PERSIB ketika meraih juara Kompetisi Perserikatan 1961.

Sedangkan di Tim Nasional, Rukman pernah bermain dengan beberapa nama besar yang menjadi legenda sepakbola Indonesia seperti Ramang, Mapakaya, Jon Simon, M Saelan, dll. Rukman tampil pada uji coba internasional melawan Kosta Rika, Army Club Uni Sovyet, Swedia. Rukman pun ikut diboyong Tony Pogacnikl (pelatih PSSI saat itu) saat Timnas melakukan Tur Asia pada tahun 1962 dan masuk timnas Asian Games 1962. 

Pada tahun 1964, dia memiliki pengalaman pahit. Sebelum pertandingan final menghadapi Persija, koran lokal di Jakarta sudah melakukan “psy war”, untuk bisa menang atas PERSIB, lakukan satu cara  yaitu "Lumpuhkan Rukman". Akhirnya ketika pertandingan final berlangsungdi Stadion Senayan Jakarta,  ia "dihajar" dua pemain Persija secara sengaja, satu pemain melakukan tackle, satu lagi menginjak lutut kanannya. Akhirnya Rukman cedera parah dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Ia hanya bisa pasrah dengan meratapi cederanya, terlebih lagi PERSIB gagal membawa gelar setelah takluk 0-1.

Setelah pulih dari cedera ia kembali bermain untuk PERSIB hingga 1973. Setelah pensiun dari pemain, dia tidak meninggalkan dunia sepak bola. Ia sempat menjadi pelatih PERSIB junior yang saat itu dihuni beberapa bintang PERSIB seperti Asep Dayat, Dadang Kurnia, dan Fiator Ambarita. Ia ikut andil mencetak pemain-pemain berkualitas seperti Roy Darwis, Yadi Mulyadi, Kekey Zakaria, dan Nandang Kunaedi.
Read More …


Nama             : Ishak Udin
TTL                 : Bandung, 21 Juni 1938
Wafat              : 24 Maret 2009
Posisi             : -
Julukan           : -

Ishak Udin, mengawali kariernya sebagai pemain dari kes. IPI (Klub anggota PERSIB).

Kariernya di Tim Nasional dimulai saat ia masih berusia 22 tahun, dia termasuk ke dalam skuad kesebelasan PSSI yang diberangkatkan ke ajang Merdeka Games di Kuala Lumpur di tahun 1960. Mulai saat itu ia selalu menjadi langganan PSSI di berbagai ajang Internasional yang diikutinya.
Read More …

Nama           : Dedi Sutendi
TTL               :
Posisi           :  Striker
Julukan         :

Merupakan pemain andalan PERSIB di era 70’an, ia sempat hijrah ke PSMS Medan dan Pardedetex Medan (Klub Galatama).  Dedi Sutendi akhirnya  kembali ke PERSIB pada Juni 1976.

Di tahun 2006 kembali masuk PERSIB, kali ini berperan sebagai asisten pelatih.
Read More …

Nama          : Ventje Sumendap
TTL              : Jakarta, 7 Juli 1959
Posisi          : Belakang
Julukan         : -


Pemain yang memulai karir sepakbolanya di Klub Angkasa Bandung pada era 77-78. Ventje Sumendap pemain belakang yang memiliki karakter keras ini mulai bergabung bersama PERSIB di tahun 1978.

Bersama rekan-rekannya : Boyke Adam, Syaiful, Rudy Salaki, Aan Irawan, Deddy Sutendi, Wahyu, Memed, Nanang, Yana, Atang, Herry Fattah, Saryoto, Dedy, Giantoro, Bambang Heribowo, Sopandiana, Djadjang Nurdjaman, dan Maman (dikenal dengan sebutan Tim PERSIB B) berhasil membawa PERSIB Juara I Piala Jusuf ke-VI tahun 1978 di Ujung pandang (sekarang Makasar). Selain itu ia juga tercatat sebagai pemain PERSIB yang mewakili Indonesia di turnamen Queen’s Cup Thailand Tahun 1978.
Read More …


Nama            : Yan Pietje Timisela
TTL                 : -        
Posisi             : -
Julukan           : -

Pietje Timisela adalah salah satu dari keluarga Timisela yang memperkuat PERSIB, Pietje adalah punggawa dari tim PERSIB tahun 1958 s/d 1970.

Bersama sama dengan Wowo Sunaryo, Omo Suratmo, Sunarko, Soenarto Soendoro, Ishak Udin, Himendra, Ade Dana, Henky Timisela, Emen Suwarman dll membawa tim PERSIB Menjadi juara Nasional di tahun 1961.

Ia juga tercatat sebagai anggota Tim Nasional PSSI pada masa generasi emas PSSI tahun 60’an.
Read More …


Nama     : Muhammad Ilyas
TTL        : 17 Agustus 1933
Posisi    : Kiper
Julukan  : -

M. Ilyas adalah Penjaga Gawang PERSIB di tahun 1953 s/d 1963 seangkatan dengan  Djudju, Parhim, Kiat Sek, Omo Soeratmo, Ade Dana, Jamiat, Liang How, Aang Witarsa, Fattah Hidayat, Haerusin, Thio Him Tjiang dll. 


Mengawali karier di Klub Sidolig kemudian Mars (anggota PERSIB) hingga akhirnya menembus skuad PERSIB di tahun 1953. Meski memiliki postur yang tidak begitu ideal untuk ukuran penjaga gawang, tapi bakatnya mampu menarik perhatian publik sepakbola Bandung.

Pada era kejayaannya, M. Ilyas juga sempat bermain di PON 1957 di Makasar.
Read More …

Nama      : Aang Witarsa
TTL         : Bandung 3 Desember 1930
Posisi     : Striker, Pelatih Kepala (1962)
Julukan   : -

Inilah pemain PERSIB yang paling bertalenta di zamannya. Ia merupakan ikon sepakbola Bandung di era 50-60’an. Beliau mendapat julukan The Flying Horse atau si Kuda Terbang. Julukan ini diberikan karena ia memiliki kemampuan berlari yang sangat tinggi, juga diimbangi dengan kemampuan mengolah bola sambil berlari, sehingga sulit bagi pemain lawan untuk merebut bola dari kakinya. Julukan ini sebenarnya tidak datang dari dalam negeri, melainkan pers Singapura yang pertama kali memberikan nama tersebut pada beliau.

Tak heran bila ia menjadi kebanggaan masyarakat Bandung di saat itu, sampai-sampai gambarnya tertera di pensil, penghapus, penggaris para bobotoh saat itu.

Dari permainannya hebatnya bersama PERSIB, ia kemudian ditarik oleh tim Nasional sejak usia 18 tahun, dan menjadi pemain PERSIB pertama (bersama Anas) yang memperkuat PSSI generasi pertama untuk kejuaraan Asian Games 1950. Ia juga turut bahu membahu untuk tim Nasional Indonesia di ajang Olimpiade di Melbourne pada tahun 1956.

Berbekal dari ilmu kepelatihan yang diikutinya di Leipzig, Jerman Timur, ia didaulat sebagai Pelatih PERSIB pada tahun 1962.
Read More …


Nama     : Emen Suwarman
TTL        : Majalengka, 18 Mei 1939
Posisi    : Gelandang – Asisten Pelatih
Julukan  : Guru

Bermain sepak bola adalah hobinya sejak kecil. Dengan giat berlatih di sekitar rumahnya di daerah Majalengka membuat skillnya semakin terasah dan dikenal di wilayah Majalengka. Emen kemudian memperkuat Persima Majalengka selama 3 tahun. Kemudian, dia dipinjam untuk memperkuat tim Korem Cirebon pada kejuaraan sepak bola antar-Korem se-Jawa Barat di Stadion Siliwangi Bandung tahun1958.

Penampilan Emen pada kejuaraan itu membuat Pangdam VI/Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie, terpikat. Ia memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Emen ke Bandung memperkuat PSAD.. Emen resmi pindah ke PSAD pada tahun 1960, dan di tahun itu juga ia mulai memperkuat PERSIB dan tim Jabar pada PON V/1960 di Bandung.

Saat PERSIB meraih juara Kompetisi Perserikatan 1960/1961, Emen belum masuk tim inti  Saat itu, PERSIB memiliki banyak pemain, sehingga dibentuk tiga tim yaitu PERSIB Garuda, Harimau, dan Banteng. Eman mendapat jatah di PERSIB Banteng.

Saat di tahun 1961, PSSI menggelar invitasi sepak bola di Senayan, yang diikuti lima klub, yakni PERSIB, Persija, Persebaya, PSMS, dan PSM, Emen sudah memperkuat PERSIB, saat itu PERSIB tampil sebagai juara tanpa terkalahkan. Penampilan Emen akhirnya memikat Tony Pogacnic, Pelatih PSSI. Emen dipanggil untuk memperkuat Indonesia pada Asian Games 1962. Mulai saat itu Emen berkali-kali membela tim nasional di berbagai ajang internasional.

Emen memiliki fisik yang kuat, ibaratnya singa liar ketika di dalam lapangan. dia dikenal berani bermain keras dan tanpa kompromi. Hal itu ditunjang pula dengan kemampuan teknik individunya yang cukup tinggi, umpannya akurat serta punya tendangan yang sangat keras. Bisa dikatakan, dia adalah pemain yang lengkap.

Maka pantaslah jika dia kita nobatkan sebagai salah seorang legenda sepakbola Indonesia. Pemain yang berposisi sebagai gelandang ini memang tidak setenar Wowo Sunaryo, Ramang, Sucipto, dll, tapi dia menjadi bagian terpenting di timnas Indonesia era 60’an. Ia membawa timnas meraih juara pada beberapa event internasional.

Tahun 1964, Emen pensiun dari status sebagai pemain nasional, pada usia 25 tahun. Namun, dia masih tetap memperkuat PERSIB sampai tahun 1973.

Setelah pensiun sebagai pemain PERSIB, Emen Suwarman mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih PERSIB bersama Djajang Nurdjaman pada Kompetisi Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia I 1994/1995. Pelatih kepala PERSIB saat itu, Indra Thohir. Pada dua event itu, PERSIB meraih juara. Posisi Emen terus bertahan sampai PERSIB tampil pada Liga Champions Asia. 

Pengabdian Emen terhadap PERSIB tidak ada yang menyaingi dan bisa bilang nyaris tanpa batas. Pada Kompetisi Liga Indonesia VII 2001, Emen masuk kembali dalam jajaran ofisial PERSIB. Jabatannya menjadi masseur. Ia bertahan hingga kompetisi 2003. Pada kompetisi 2005, dia masuk kembali dengan posisi tetap sebagai masseur, dan dipertahankan hingga kompetisi 2007. Sebenarnya, nilai penghargaan prestasi dia dulu dengan jabatan saat ini sebagai masseur, tak sebanding. Namun, hal ini tidak membuat Emen merasa rendah diri.

Seorang masseur merupakan bagian terpenting dalam klub. Saya sudah merasakan ketika masih aktif menjadi pemain karena sering dipijat masseur tim. Jika pemain ada yang cedera otot atau pegal-pegal, menjadi tugas masseur untuk menyembuhkannya. Saya menikmati pekerjaan ini,” ujarnya.
Read More …


Nama    : Zaenal Arief
TTL       : Garut, 3 Januari 1981
Posisi   : Striker
Julukan : -

Saat tingkat junior, Zaenal Arif membawa Persigar menjadi juara Piala Suratin 1997. Akhirnya bergabung bersama PERSIB di tahun 1999 saat usianya baru menginjak 19 tahun. Semusim bersama PERSIB, Arief memutuskan untuk hijrah ke Persita, karena melihat prospek yang lebih baik di klub tersebut.

Setelah 5 musim menjadi ikon Persita dan juga kerap terpilih sebagai pemain tim nasional, Zaenal Arief memutuskan untuk pulang ke PERSIB pada awal LI XII/2006.

Arief adalah seorang bintang. Kontribusinya terhadap kinerja tim, khususnya pada LI XII dan LI XIII tergolong cukup vital. Dalam dua musim itu, ia menyumbangkan 15 gol untuk PERSIB, tak salah jika ia lantas menjadi idola bobotoh, terutama kaum wanita yang banyak mengagumi ketampanannya.

Ikut andil dalam musim perdana PERSIB di Indonesia Super Liga, namun kemudian hengkang pada tahun 2009 karena gerah tak mendapat tempat di posisi utama, karena saat itu pelatih PERSIB memberikan posnya untuk jatah pemain asing.
Read More …


Nama      : Omo Suratmo
TTL         : -
Posisi     : Gelandang, Pelatih Kepala (sampai 1976)
Julukan   : -

Seorang pemain yang menghuni skuad PERSIB di era 50-60’an. Tim PERSIB saat itu bisa dikatakan sebagai generasi emas yang pertama, dimana PERSIB mengalami puncak kejayaan dengan memenangkan berbagai gelar juara dan disegani di kancah persepakbolaan Indonesia.

Omo Suratmo adalah gelandang sekaligus kreator permainan PERSIB di saat itu. Menurut sumber bobotoh yang pernah menyaksikan permainannya, Omo dikenal sebagai pemain yang memiliki skill dan juga visi bermain yang sangat istimewa.

Pengabdiannya terhadap PERSIB tidak hanya sebagai pemain, setelah pensiun sebagai pemain ia kemudian dipercaya sebagai pelatih. Mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala PERSIB di tahun 1976.
Read More …


Nama       : Max Timisela
TTL          : Cimahi, 7 Mei 1944
Posisi      : Gelandang - Asisten Pelatih
Julukan    : -

Pemain keturunan Maluku, tetapi lahir di Cimahi ini menempati posisi sebagai gelandang, ia mulai bergabung bersama PERSIB sejak tahun 1962, dan mulai menjadi tulang punggung kira-kira periode 60’an akhir atau awal 70’an. Max Timisela adalah pemain dengan talenta dan bakat alam yang luar biasa, ia dikenal memiliki kemampuan brilian mengolah bola, lari yang cepat, tendangan akurat, serta visi bermainnya yang istimewa, Ia juga piawai menjebol gawang lawan dengan aksi "Balik Bandung" atau kontra salto.

Meskipun secara prestasi di Perserikatan saat itu PERSIB paceklik gelar, namun di ajang turnamen PERSIB justru beberapa kali meraih gelar Juara. Prestasi bersama PERSIB yang pernah diraihnya tidak main-main, antara lain membawa Piala Jusuf di Makassar, Piala Surya di Surabaya, dll. Dari situlah nama Max terkenal ke seluruh tanah air hingga menjadi langganan tim nasional. 

Ketika bergabung dengan timnas PSSI, membawanya pergi keberbagai negara di belahan dunia. Ketika Tur Eropa melawan klub dari Jerman, Werder Bremen pada tahun 1965, timnas kalah 5-6. Max berhasil mencuri perhatian dengan mencetak dua gol. Saat itu juga, pelatih Werder Bremen, Heer Brocker sempat kepincut untuk merekrutnya. Mereka tercengang akan kemampuan pemain ini yang sekelas dengan pemain Eropa, akhirnya Wali Kota Bremen melayangkan pinangan langsung pada Wali Kota Bandung saat itu yaitu Otje Djunjunan. Max pun berkostum Werder Bremen sebelum akhirnya diminta untuk pulang kembali ke Indonesia atas perintah dari Menteri Olah Raga saat itu, Muladi.

Max Timisela gantung sepatu pada usia hampir 35 tahun, tepatnya pada tahun 1978 saat PERSIB terdegradasi ke Divisi I. Seandainya saja saat itu ia masih berusia muda, tentu ia akan terus berjuang bersama PERSIB meskipun bertanding di divisi I. Selain itu PERSIB saat itu sudah seharusnya melakukan regenerasi dengan member kesempatan kepada yang lebih muda.

Setelah pensiun, Max Timisela pernah menjadi asisten pelatih dalam rentang waktu tahun 1986–1990. Prestasi yang dia dapat ketika menjadi asisten pelatih ialah saat dia menjadi asisten pelatih dari Nandar Iskandar, ketika itu PERSIB berhasil meraih juara di Kompetisi Perserikatan 1986.
Read More …


Nama       : Dedi Haryanto
TTL          : Batang, 25 Nopember 1988
Posisi      : Kiper
Julukan    : -

Kariernya bersama PERSIB di musim 2009/2010 tidak begitu berkembang, dia hanya sebagai penjaga gawang nomor 3 di bawah Kosin / Markus Haris Maulana dan Cecep Supriatna. Karena itu ia tidak pernah diturunkan oleh pelatih baik di ajang Super Liga maupun Liga Indonesia.

Sempat akan diperpanjang kontraknya di musim 2010/2011, namun batal karena di ajang Piala Inter Continental 2010 yang dijadikan ajang seleksi, Dedi tidak menunjukan performa yang baik.
Read More …


Nama        : Ade Dana
TTL           : -
Posisi       : Striker (Era 50-60'an), Pelatih Kepala (1984/1985, 1989/1990)
Julukan     : -

Ade Dana adalah salah seorang pemain besar yang pernah dilahirkan PERSIB Bandung. Ia merupakan striker PERSIB di dekade 50-an dan 60-an.

Ia adalah pemain yang membawa PERSIB bercokol sebagai salah satu tim elite nasional. Pada tahun 1957, Ade dana membawa PERSIB menduduki peringkat ketiga dan dua tahun kemudian membawa PERSIB naik ke posisi kedua. Baru pada 1961, ia membawa PERSIB sebagai juara Kejuaraan Nasional (Perserikatan, atas keberhasilan tersebut, PERSIB kemudian ditunjuk mewakili PSSI dalam kejuaraan sepak bola ”Piala Aga Khan’ di pakistan 1962.

Ade Dana juga pantas digelari sebagai Legenda Sepakbola Indonesia. Prestasi tertingginya bersama dengan rekan-rekannya seperti Aang Witarsa dan Rukma adalah membawa PSSI menahan imbang tim kuat, Uni Sovyet tanpa gol pada pertandingan Olimpiade di Melbourne tahun 1956. Berkat kecemerlangan itu pula ia juga pernah melanglang buana di Sovyet selama tiga bulan pada tahun 60-an.

Sampai saat ini prestasi tersebut dianggap sebagai prestasi paling fenomenal yang pernah tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Berkat itu pula, sampai akhir hayatnya, ia tetap menerima uang pensiun dari PSSI sebagai penghargaan atas jasa-jasanya tersebut.

Sebagai pelatih,  pada tahun 1984/1985, Ade Dana membawa PERSIB tampil sebagai runner up Kompetisi Perserikatan. Kemudian bersama asisten Indra tohir dan Dede Rusli, ia kemudian membawa PERSIB tampil menjuarai kompetisi perserikatan 1989-1990. Sukses itu mengantarkan Ade Dana menjadi orang pertama di kubu PERSIB yang berhasil mempersembahkan gelar juara ketika menjadi pemain dan pelatih. Selain itu, ia juga merupakan pelatih pertama di Jawa Barat pada era ’80-an yang memiliki predikat S-1.
Read More …

Republik Design